Alasan Memilih Partai

CENTANG PEMILUSemakin dekat hari penyontrengan, masyarakat, utamanya mereka yang bukan simpatisan (baca: massa mengambang), makin berpikir partai apa nanti yang akan dipilih. Teman saya bahkan dengan tidak biasanya browsing di internet melihat-lihat profil partai dan capres yang diusung parpol. Mungkin seandainya ada sebuah media yang menyediakan informasi profil caleg dan parpol secara seimbang tanpa melebihkan atau merendahkan, saat-saat seperti ini akan sedikit naik tirasnya.

Antara keinginan tidak golput tetapi juga takut salah pilih yang mengakibatkan rasa bersalah dikemudian hari semakin mendorong keingintahuan masyarakat tentang profil parppol dan caleg yang sebenarnya. Akhirnya pertanyaan, “Sampean pilih partai apa?” pun kemudian terlontar. Bukan untuk ingin tahu atau merusak asas LUBER, cuma hanya sebagai perbandingan. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi, alasan memilih, dan informasi lain tentang parpol/caleg. Diharapkan kemudian –mungkin begitu– kebingunan di atas sirna, dan siap serta mantap memilih di TPS.

Keadaan seperti ini bisa saja terjadi pada jutaan warga yang masuk dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap), antara tidak mau dicap golput tetapi bingung pilih partai mana. Karenanya sangat penting bagi kita membuat garis tebal kembali kriteria mengapa sebuah partai didukung.

* * *

Saya pernah membaca sebuah blog yang mengkritik partainya sendiri. Isinya begini, partai jangan dipilih karena ia lebih bersih dibandingkan yang lain. Yang ingin ditekankan di sini adalah, dasar memilih partai bukannya membandingkan antara partai yang satu dengan partai yang lain, kemudian memilih yang paling baik di antara yang ada. Sebenarnya kondisi memilih partai karena paling baik (paling bersih, paling jujur, paling amanah, dll) adalah mirip dengan keadaan putus asa. Mestinya memilih partai memakai ukuran partai yang ideal sekalian, bukan membandingkan antar partai-partai yang ada.

Di dalam Alquran disebutkan:

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada alkhair, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (TQS Ali Imran 104)

Kata segolongan di atas adalah sebuah jamaah, termasuk juga partai. Pada ayat di atas terlihat jelas adanya perintah Allah yang mendorong umat Islam membentuk sebuah golongan dengan kriteria aktivitas seperti yang disebutkan pada ayat ini juga. Para ulama menyebut kewajiban “mengadakan” jamaah/partai seperti ini sebagai fardlu kifayah.

Ayat di atas tidak hanya dipakai sebagai standar dalam membentuk partai (jamaah), tetapi juga sebagai pedoman dalam soal dukung-mendukung. Karena tidak semua umat Islam mempunyai kemampuan membuat partai, utamanya mereka yang terbiasa sebagai makmum. Karenanya dalam membuat partai dan mendukug partai standar aktivitas jamaah yang disebutkan di atas (menyeru kepada al khair (Islam), menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar) adalah sebuah harga mati.

* * *

Kembali ke pertanyaan di atas, maka mestinya jawaban kita bukan partai yang paling baik, bersih, jujur, atau amanah dari partai yang ada. Tetapi mestinya adalah partai yang sesuai tuntutan syar’i (menyeru kepada syariat Islam), beramar ma’ruf dan bernahyi munkar. Apalah artinya jika hanya paling baik dari yang lain tapi tidak menyuarakan syariat Islam?

Masyarakat harus kembali kepada standar yang ideal, bukan pasrah pada keadaan partai-partai yang ada, kemudian memilih partai yang “mendingan”. Sekali lagi, masyarakat harus memakai standar ideal, yakni syariat Islam! Wallahu ‘alam bil ahshowab…[]

~ oleh shortime pada April 6, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: