Sesajen Demokrasi

workshop-democracyBangsa Indonesia sudah terlanjur menganggap demokrasi sebagai sistem terbaik. Istilahnya berapapun harga untuk sebuah demokrasi akan ditebus oleh bangsa ini. Toh ternyata harus mengorbankan uang triliunan rupiah (biaya pelaksanaan Pemilu demokratis untuk 2009 saja Rp. 29,3 triliun)[1], tak apalah, begitu mungkin alur pikirnya. Penjelasan apapun dan dari manapun sangat sulit menembus tembok pemahaman rakyat tentang betapa scareface-nya demokrasi. Bahkan infiltrasi demokrasi yang sudah kemana-mana, termasuk ke para “cendikiawan” muslim, turut memperkusut usaha menguraikan fakta sebenarnya demokrasi. Dari mulut mereka kemudian muncullah istilah Islam lebih demokratis, demokrasi = syura, dll.

Selain mengorbankan uang yang puluhan triliun, demokrasi juga mengorbankan kerugian materi secara langsung. Undang-undang buah tangan para anggota parlemen yang lahir dari rahim demokrasi telah menjual negeri ini. UU Penanaman Modal Asing, UU Minerba, dan UU Pengelolaan SD Air hanyalah sebagian kecil dari besarnya upaya menjual negeri ini kepada pihak asing. Tak bisa dipungkiri bahwa parlemen yang merupakan wujud pengejawantahan demokrasi tak lain adalah sebuah alat untuk menyengsarakan rakyat itu sendiri! Begitu pula presiden beserta kabinetnya, yang juga merupakan wujud nyata produk demokrasi, telah mengeluarkan berbagai aturan yang menyengsarakan. Penjualan BUMN (privatisasi), UU BHP, kenaikan BBM, langkanya pupuk, dll.

Itulah dua sesaji besar demokrasi. Tetapi tak ada apa-apanya jika dibanding dengan sesaji ketiga berikut ini. Demokrasi yang menganut paham, Vox populi, Vox Dei (suara rakyat adalah suara Tuhan) telah menyiratkan secara tegas bahwa pada sistem ini peran Tuhan harus di-rejection. Mempertegas pendapat ini Bernard Lewis telah mengatakan bahwa sekularisme sebagai faktor penting dalam kehidupan sosial dan politik modern (demokratis, pen) tidak bisa muncul dari masyarakat ini (umat Islam, pen)[2]. Sungguh menyedihkan, demokrasi menurut para pakar ini (tdak saja Bernard Lewis tetapi juga menurut Samuel Huntington) mensyaratkan pengembannya menjadi sekuler. Sedang sekuler sendiri seperti yang kita ketahui adalah paham menyingkirkan peran agama (Tuhan) di dalam kehidupan.

Mungkinkah kita, seorang muslim, yang setiap akhir sholat kita selalu meminta diwafatkan dalam keadaan muslim sedang rutinitas keseharian kita pasca sholat telah menghina-dinakan Allah? Suatu hal ironi! Tapi sungguh aneh tapi nyata, inilah nyatanya kita telah gandrung dan tergila-gila pada berhala baru ini!

Sungguh sangat besar sekali syarat dan sesaji demokrasi. Sudah tak terbukti ampuh mahal pula! [] pujo nugroho


[2] Mujani, Saiful. 2007. Muslim Demokrat. Hal. 13. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

~ oleh shortime pada April 4, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: