Salah Kaprah Menggolongkan Partai

Di Indonesia setidaknya ada dua golongan besar partai politik, yaitu partai nasionalis dan partai Islam. Penamaan ini tidak saja digolongkan oleh kalangan media tetapi klaim mereka sendiri. Sebutlah PPP, PBB, PKNU, PKS, dan PBR adalah partai Islam. Kadang pula partai yang sebenarnya bukan partai Islam, tetapi “hanya” berbasis masa Islam, juga disebut partai Islam. Misalnya PAN, PMB, dan PKB.

Golongan kedua, yaitu Partai Nasionalis. Yang masuk kelompok ini adalah Golkar, PDIP, PD, PDP, PPD,  PKPB, Gerindra, Hanura, PKPB, dll.

Dari sini mulailah terasa keganjilan. Di mana-mana di dalam penggolongan pasti dikelompokkan secara berlawanan. Katakanlah misalnya penggolongan tanaman berdasarkan akar. Kitam engenal ada akar tunggal dan akar serabut. Kalau dia tidak tunggal maka dia berserabut, dan demikianlah memang adanya. Begitu pula penggolongan biji buah. Ada monokotil dan dikotil. Kita juga mengenal kalau tidak siang maka malam. Memang ada juga pagi, sore, atau senja, bahkan fajar. Tetapi ingat, patokannya sama yaitu posisi matahari. Sama halnya dengan dengan penggolongan tumbuhan tadi, berpatokkan sama. Apakah patokannya akar atau biji buah. Bisakah kemudian penggolongan tanaman disebut begini, 1) pohon akar tunggal, 2) pohon dikotil. Penggolongan demikian salah kaprah dan rancu. Yangsatu berdasarkan akar dan yang lain berdasarkan biji buah.

Sama halnya dengan penggolongan partai politik di Indonesia. Dia tidak taat “patokan”. Yang satu berpatokan agama yang satu berpatokan kecintaan terhadap negera (nasionalisme). Rancu bukan?

Mestinya taat seperti di Turki. Ada partai Islam dan partai sekuler. Dua-duanya adalah perbandingan sepadan. Sama-sama menilainya berdasarkan agama. Atau di negara lain, AS misalnya. Ada konservatif (Partai Republik) dan liberal (Demokrat).

Oleh karenanya terasa ganjil tatkala dua partai dari dua pengelompokkan berbeda disandingkan (partai Islam Vs. partai nasionalis). Mestinya jika partai Golkar, katakanlah demikian misalnya, disebut partai Nasionalis disandingkan dengan PKNU dari partai Islam, mestinya PKNU disebut partai bukan Nasionalis! Begitu juga Golkar misalnya, mestinya disebut bukan Islam (sekuler)!

Tapi dasar Indonesia yang malu-malu, kemudian merasa tidak enak menyebut diri partai sekuler maka kemudian disebutlah dirinya sendiri dengan partai nasionalis. Begitu juga sebaliknya.

Makanya saya terkadang “setuju” dengan upaya Surya Paloh, Dewan Penasihat Golkar, yang enggan berkoalisi dengan PKS dan lebih memilih PDIP, dengan alasan satu ideologi. Tentu yang dimaksuk di sini adalah sama-sama sekuler bukan sama-sama nasionalis. Karena tak satupun yang meragukan betapa PKS adalah juga sangat nasionalis. Saya bukannya setuju akan koalisis ini. Karena bisa dibayangkan betapa luar biasanya negeri ini akan jauh dari nilai-nilai Islam jika dedengkot partai sekuler ini berkuasa. Meskipun juga bukan jaminan partai Islam manapun yang berkuasa akan menjadikan Islam tujuannya dan syariat Islam sebagai aplikasi perangkat negara. Sekali lagi tak satupun partai Islam berani menjanjikannya!

* * *

Persoalan pengelompokkan partai Islam dan nasionalis memang nampak sederhana, tetapi sangat cukup jitu untuk menjebak rakyat mengelabui betapa banyaknya partai yang tak mengakui Islam sebagai sebuah ideologi dan sumber hukum. Partai yang mengklaim dan diklaim sebagai partai Islam saja malu menjajakan Islam sebagai ideologi, apalagi mereka. Hem!

~ oleh shortime pada April 4, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: