“Nasib Tragis” Syariat Islam

•April 7, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

islam-vs-sekuler-copyKampanye secara bahasa berasal dari kata campaign yang dapat diartikan sebagai a systematic course of aggressive activities for some specific purpose.[1] Di dalam kampanyelah berbagai janji dan program kerja ditawarkan kepada pemilih (di dalam dunia politik) atau konsumen (di dunia marketing). Dengan isi kampanye pula sesorang atau sebuah partai didukung. Layaknya sebuah proposal, kampanye akan ”merayu” sasarannya untuk memilihnya. Karenanya di waktu tenang ini di mana semua partai sudah dilarang untuk berkampanye, tepat rasanya bagi kita untuk menilai apa yang mereka kampanyekan.

Jika diperhatikan maka semua parpol telah menjanjikan kehidupan yang lebih baik seandainya kelak mereka berkuasa. Berbagai cara dan program mereka beberkan. Tragisnya hampir semua partai politik tidak ada yang ”memasarkan” syariat Islam sebagai program yang akan mereka pakai. Bahkan mereka (Parpol Islam) beramai-ramai meninggalkan syariat Islam sebagai jurus meraup dukungan maupun ”jurus” menangani negara ini yang sedang sakit untuk menuju kesejahteraan.

”Partai politik berhaluan Islam, seperti PPP, PKS, dan PBB, berusaha meminimalkan penggunaan jargon dan isu penegakan syariat Islam dalam kampanyenya di Pemilu 2009”, demikian isi berita dari www.kabarindonesia.com yang berjudul Parpol Islam Hindari Jargon Syariat[2].

Dari fenomena ini bisa kita ketahui bahwa telah terjadi degradasi kepercayaan diri yang sangat parah pada parpol Islam tentang ”keampuhan” syariat Islam sebagai penyelesai masalah. Pertanyaannya, lalu kemudian apakah yang menjadikan mereka berbeda dengan parpol sekuler? Padahal perbedaan itu sendiri terletak pada keloyalan memegang Islam itu sendiri.

Kedua, penyebab lain bisa jadi adalah ide memenuhi ”selera pasar”. Setelah menganalisis bahwa ide memperjuangkan syariat Islam sudah tidak laku lagi, kemudian parpol Islam enggan menjual syariat Islam. Hal ini semakin dikuatkan dengan analisis-analisis lembaga survey. Direktur LSI Dodi Ambar, misalnya, menyebut jumlah pemilih yang menjadikan isu agama dan moral sebagai prioritas pemilih muslim saat ini semakin terbatas[3].

Komplitlah sudah, parpolnya enggan menawarkan Islam; rakyat juga emmoh memilih Islam. Tentu fenomena ini begitu memilukan. Lalu bagaimanakah ”nasib” masa depan syariat Islam karena tak laku di pemilu kali ini?

* * *

Syariat Islam tetaplah syariat Islam. Ia tetap mulia meski sebagian umat Islam, atau bahkan seluruhnya, meninggalkannya. Ia tetap sebagai sistem terbaik karena diturunkan oleh Dzat Yang Mahabaik, Mahasempurna, Mahamengetahui, serta Mahabijak.

(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (TQS Ali Imran [3] 138)

Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (TQS An Nahl [16] 89)

Sejarah membuktikan bahwa tatkala Islam diterapkan kesejahteraan begitu mudah ditemukan di mana-mana, di dalam Negara Islam tentunya (insya Allah tak lama tulisan sejarah kegemilangan umat manusia di bawah naungan Islam akan saya posting).

Sekali lagi, syariat Islam tetaplah akan menjadi syariat Islam, sistem terbaik dan tersempurna. Ia tak mengalami degradasi kemulian sedikitpun. Begitu pula Allah, tidak akan sedikitpun turun kemuliaanNya sama sekali meski sebagian atau bahkan seluruh umat manusia meninggalkanNya.

Dan Musa berkata: “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (TQS Ibrahim [14] 8 )

Sebaliknya ”hantaman bumerang” akan memukul umat Islam (dan umat manusia seluruhnya) sendiri jika tidak menerapkan sistem Islam ini. Dzat Mahatahu tersebut telah memberitahukan kita bahwa,

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, (TQS Thaahaa [20] 124)

Ya, kehidupan sempit yang diderita umat manusia saat ini tidak lain karena telah meninggalkan Islam itu sendiri. Dan kesempitan yang lebih dahsyat telah menghadang di depan mata jika tidak kembali pada syariat Islam.

* * *

Maka, syariat Islam tidak akan bernasib apa-apa sebaliknya umat manusialah yang akan semakin terpuruk dan tragis kehidupannya tatkala meninggalkan Islam. Memalukan!!! []

Alasan Memilih Partai

•April 6, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

CENTANG PEMILUSemakin dekat hari penyontrengan, masyarakat, utamanya mereka yang bukan simpatisan (baca: massa mengambang), makin berpikir partai apa nanti yang akan dipilih. Teman saya bahkan dengan tidak biasanya browsing di internet melihat-lihat profil partai dan capres yang diusung parpol. Mungkin seandainya ada sebuah media yang menyediakan informasi profil caleg dan parpol secara seimbang tanpa melebihkan atau merendahkan, saat-saat seperti ini akan sedikit naik tirasnya.

Antara keinginan tidak golput tetapi juga takut salah pilih yang mengakibatkan rasa bersalah dikemudian hari semakin mendorong keingintahuan masyarakat tentang profil parppol dan caleg yang sebenarnya. Akhirnya pertanyaan, “Sampean pilih partai apa?” pun kemudian terlontar. Bukan untuk ingin tahu atau merusak asas LUBER, cuma hanya sebagai perbandingan. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi, alasan memilih, dan informasi lain tentang parpol/caleg. Diharapkan kemudian –mungkin begitu– kebingunan di atas sirna, dan siap serta mantap memilih di TPS.

Keadaan seperti ini bisa saja terjadi pada jutaan warga yang masuk dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap), antara tidak mau dicap golput tetapi bingung pilih partai mana. Karenanya sangat penting bagi kita membuat garis tebal kembali kriteria mengapa sebuah partai didukung.

* * *

Saya pernah membaca sebuah blog yang mengkritik partainya sendiri. Isinya begini, partai jangan dipilih karena ia lebih bersih dibandingkan yang lain. Yang ingin ditekankan di sini adalah, dasar memilih partai bukannya membandingkan antara partai yang satu dengan partai yang lain, kemudian memilih yang paling baik di antara yang ada. Sebenarnya kondisi memilih partai karena paling baik (paling bersih, paling jujur, paling amanah, dll) adalah mirip dengan keadaan putus asa. Mestinya memilih partai memakai ukuran partai yang ideal sekalian, bukan membandingkan antar partai-partai yang ada.

Di dalam Alquran disebutkan:

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada alkhair, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (TQS Ali Imran 104)

Kata segolongan di atas adalah sebuah jamaah, termasuk juga partai. Pada ayat di atas terlihat jelas adanya perintah Allah yang mendorong umat Islam membentuk sebuah golongan dengan kriteria aktivitas seperti yang disebutkan pada ayat ini juga. Para ulama menyebut kewajiban “mengadakan” jamaah/partai seperti ini sebagai fardlu kifayah.

Ayat di atas tidak hanya dipakai sebagai standar dalam membentuk partai (jamaah), tetapi juga sebagai pedoman dalam soal dukung-mendukung. Karena tidak semua umat Islam mempunyai kemampuan membuat partai, utamanya mereka yang terbiasa sebagai makmum. Karenanya dalam membuat partai dan mendukug partai standar aktivitas jamaah yang disebutkan di atas (menyeru kepada al khair (Islam), menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar) adalah sebuah harga mati.

* * *

Kembali ke pertanyaan di atas, maka mestinya jawaban kita bukan partai yang paling baik, bersih, jujur, atau amanah dari partai yang ada. Tetapi mestinya adalah partai yang sesuai tuntutan syar’i (menyeru kepada syariat Islam), beramar ma’ruf dan bernahyi munkar. Apalah artinya jika hanya paling baik dari yang lain tapi tidak menyuarakan syariat Islam?

Masyarakat harus kembali kepada standar yang ideal, bukan pasrah pada keadaan partai-partai yang ada, kemudian memilih partai yang “mendingan”. Sekali lagi, masyarakat harus memakai standar ideal, yakni syariat Islam! Wallahu ‘alam bil ahshowab…[]

Arti Black Campaign yang Sebenarnya

•April 4, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

kaingAwalnya kita tak kenal apa itu black campaign, tapi sejak Pemilu 2004 lalu di mana salah seorang capres yang mengecam black campaign, kemudian mulai ramailah istilah black campaign. Kita pun kemudian akrab. Secara sederhana kita sudah bisa menterjemahkan arti black campaign dari kata-kata yang tersusun. Ya betul, kampanye hitam. Hitam di sini mewakili sebuah istilah yang buruk, jelek, intinya patut dijauhi. Selanjutnya di dalam penggunaannya diartikan kampanye menjelekkan lawan politik. Namun, sebenarnya juga dapat diartikan sebagai kampanye yang buruk.

Selain berisi kampanye yang menjelek-jelekkan lawan politik, kampanye yang diramaikan dengan goyang porno juga digolongkan oleh para pengamat dan media sebagai kampanye yang buruk. Tapi benarkah kampanye yang demikian cukup disebut kampanye buruk?

* * *

Allah Swt –Sang Dzat Mahaberkuasa, Dzat Paling Supertahu, dan Pemberi Sumber Segala Sumber Hukum– adalah Sumber Segala Kebenaran. Bagi kita yang telah mengikrarkan diri bahwa tak ada ilah selai Dia, tentu mestinya secara otomatis juga mengakui bahwa Dialah segala Sumber Hukum. Tentu segala perkataanNya harus diletakkan di atas segalanya. Termasuk dalam hal ini firmanNya:

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (TQS Fushshilat [41] : 33]

Maka karenanya suatu kampanye yang tak terkandung sama sekali kalimat yang menyeru kepada Allah, juga termasuk dalam hal ini seruan untuk menegakkan hukumNya, adalah kampanye paling buruk! Tentu sebuah hal yang sangat ironi dan sangat bodoh tatkala ratusan juta rupiah uang dikeluarkan untuk menyelenggarakan kampanye, menyewa lapangan, memanggil artis, membayar “uang bensin” peserta, dan lainnya tetapi hanya mendengarkan perkataan yang sia-sia!

Lihatlah beberapa berita berikut yang memberitakan “penistaan” syariat Islam dalam kampanye (Pemilu).

“Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni meminta para calon legislator atau partai politik menghindari penggunaan ayat-ayat Al Quran dalam berkampanye. Maftuh berharap ajaran agama yang sifatnya abadi dapat dijaga untuk kepentingan lebih luas lagi.” (http://politik.vivanews.com/news/read/43377-ayat_al_quran_jangan_diobral_dalam_kampanye)

Memang jika konteksnya menjual ayat Alquran adalah sebuah pelanggaran terhadap Islam. Tetapi jika melarang penggunaan Alquran tentu sangat ironi!!!

Berita kedua, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tidak akan menjual isu syari’at Islam pada Pemilu 2009. “Ini agar PKS bisa menempatkan orangnya di kekuasaan. Soal syariat Islam dan sebagainya, sudah tidak relevan lagi bagi PKS,” ujar Wakil Ketua Fraksi PKS (FPKS) Zulkieflimansyah, di Jakarta, Jum’at (30/12/2009) (http://warnaislam.com/berita/negeri/2009/1/30/66000/Zulkieflimansyah_Pemilu_2009_PKS_Tak_Jualan_Syariat_Islam.htm).

Berita serupa juga muncul di website Kompas dan PKS sendiri.

“”Caranya, mendudukan umat Islam di kursi kekuasaan. Bagi kami di PKS, tidak lagi penting bicara tentang negara Islam, syariat Islam, itu sudah agenda masa lalu lah. Ummat Islam harus diajar modernisasi dan berkompetis. Nah, yang kami temukan di lapangan adalah konsituen PDI Perjuangan adalah hal yang harus kita cermati secara serius. Kalau PDI-P berkoalisi dengan PKS, ini ada agenda baru yang lebih besar, tidak ada lagi dikotomi Islam dan Nasionalis. Ini menjadi koalisi yang paling kami perhatikan,” jelasnya lagi.” (http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/30/19231656/PKS.Anggap.PDI.Perjuangan.Lebih.Nasionalis)

Pertanyaannya, adakah lagi perkataan yang lebih baik daripada perkataan yang menyeru kepada Islam? Adakah lagi aturan yang lebih baik daripada syariat Islam? Lalu “barang” apa yang yang lebih baik daripada syariat Islam itu sendiri? Karenanya jika selama ini tak ada satupun partai yang tidak menyeru syariat Islam, maka semuanya adalah berkampanye hitam!!! Memalukan!!![]

Sesajen Demokrasi

•April 4, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

workshop-democracyBangsa Indonesia sudah terlanjur menganggap demokrasi sebagai sistem terbaik. Istilahnya berapapun harga untuk sebuah demokrasi akan ditebus oleh bangsa ini. Toh ternyata harus mengorbankan uang triliunan rupiah (biaya pelaksanaan Pemilu demokratis untuk 2009 saja Rp. 29,3 triliun)[1], tak apalah, begitu mungkin alur pikirnya. Penjelasan apapun dan dari manapun sangat sulit menembus tembok pemahaman rakyat tentang betapa scareface-nya demokrasi. Bahkan infiltrasi demokrasi yang sudah kemana-mana, termasuk ke para “cendikiawan” muslim, turut memperkusut usaha menguraikan fakta sebenarnya demokrasi. Dari mulut mereka kemudian muncullah istilah Islam lebih demokratis, demokrasi = syura, dll.

Selain mengorbankan uang yang puluhan triliun, demokrasi juga mengorbankan kerugian materi secara langsung. Undang-undang buah tangan para anggota parlemen yang lahir dari rahim demokrasi telah menjual negeri ini. UU Penanaman Modal Asing, UU Minerba, dan UU Pengelolaan SD Air hanyalah sebagian kecil dari besarnya upaya menjual negeri ini kepada pihak asing. Tak bisa dipungkiri bahwa parlemen yang merupakan wujud pengejawantahan demokrasi tak lain adalah sebuah alat untuk menyengsarakan rakyat itu sendiri! Begitu pula presiden beserta kabinetnya, yang juga merupakan wujud nyata produk demokrasi, telah mengeluarkan berbagai aturan yang menyengsarakan. Penjualan BUMN (privatisasi), UU BHP, kenaikan BBM, langkanya pupuk, dll.

Itulah dua sesaji besar demokrasi. Tetapi tak ada apa-apanya jika dibanding dengan sesaji ketiga berikut ini. Demokrasi yang menganut paham, Vox populi, Vox Dei (suara rakyat adalah suara Tuhan) telah menyiratkan secara tegas bahwa pada sistem ini peran Tuhan harus di-rejection. Mempertegas pendapat ini Bernard Lewis telah mengatakan bahwa sekularisme sebagai faktor penting dalam kehidupan sosial dan politik modern (demokratis, pen) tidak bisa muncul dari masyarakat ini (umat Islam, pen)[2]. Sungguh menyedihkan, demokrasi menurut para pakar ini (tdak saja Bernard Lewis tetapi juga menurut Samuel Huntington) mensyaratkan pengembannya menjadi sekuler. Sedang sekuler sendiri seperti yang kita ketahui adalah paham menyingkirkan peran agama (Tuhan) di dalam kehidupan.

Mungkinkah kita, seorang muslim, yang setiap akhir sholat kita selalu meminta diwafatkan dalam keadaan muslim sedang rutinitas keseharian kita pasca sholat telah menghina-dinakan Allah? Suatu hal ironi! Tapi sungguh aneh tapi nyata, inilah nyatanya kita telah gandrung dan tergila-gila pada berhala baru ini!

Sungguh sangat besar sekali syarat dan sesaji demokrasi. Sudah tak terbukti ampuh mahal pula! [] pujo nugroho


[2] Mujani, Saiful. 2007. Muslim Demokrat. Hal. 13. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Pelacur Politik

•April 4, 2009 • 1 Komentar

koalisisSeni berpolitik. Bagi mereka pecinta seni, seniman maksud saya–yang tulen lo ya, tentu sangat heran luar biasa pada istilah satu ini. Mereka selama ini hanya kenal seni melukis misalnya, memahat, menyanyi, menari, berpantun, seni berpuisi, atau seni berperan. Nah kalau berpolitik di mana seninya? Malah sebagian orang menggolongkan berpolitik sebagai hal yang najis, patut dijauhi. Jika demikian, apa bedanya politik seni dan air seni, kalau sama-sama najis?

* * *

Di dunia politik, dikenal banyak istilah dalam praktiknya. Misalnya lobi, baik dalam menentukan pimpinan sidang, menerima atau menolak pertanggungjawaban seorang pemimpin (Bupati, Walikota, atau bahkan Presiden), hingga dalam pengesahan UU. Ada juga dikenal koalisi partai. Sebuah fusi, penggabungan kekuatan, partai tanpa meninggalkan partai sebelumnya. Artinya di depan politik kekuatan partai-partai yang berkoalsi tersebut satu tetapi terdiri dari banyak partai (lebih dari satu). Banyak alasan mengapa sebuah partai berkoalisi. Tentu jawabannya sudah bisa ditebak, KEPENTINGAN itulah jawabannya. Terserah untuk memenangkan kursi pimpinan politik (Bupati, Gubernur, Presiden, dll) atau lainnya. Karenanya kemudian dikenal dalam dunia (yang lebih keras dibandingkan dunia preman ini) tak ada lawan dan kawan abadi, yang hanya ada kepentingan abadi!

* * *

Sejatinya, secara filosofi, mengapa partai itu berdiri dan apa ideologinya-lah yang menyebabkan partai tersebut beserta orang-orang yang menjadi anggotanya berbeda dengan partai lain. Di tindak-tanduk serta sepak terjangnya dilapangan-pun mestinya terlihat juga perbedaan tersebut. Namun, jika pada akhirnya sebuah partai yang telah eksis dan mempunyai anggota yang menggerakkannya ternyata berkoalisi dengan partai lain, lalu untuk apa partai itu ada? Bukankah –menurut pandangan idealisme– satu-satunya yang bisa menyebabkan anggota partai duduk bersama dengan anggota yang lain adalah kesamaan IDEOLOGI? Bukankah pula wadah tempat duduk tersebut bagi orang-orang yang “sama” tersebut bukannya wadah KOALISI tetapi wadah PARTAI itu sendiri? Lalu untuk apa pula kebanggan diri menyebut perbedaan dirinya dengan partai lain, katakanlah bersih dan terpercaya, tapi pada akhirnya berkoalisi dengan partai yang ia tuding kotor dan tak terpercaya? Bukankah tak ada istilah bersih jika sudah bercampur kotor? Sungguh koalisi adalah sebuah lacur politik!

Simpel saja. Jika anda ingin ideologi anda tegak dan cita-cita partai anda tercapai dan berhasil, maka ajaklah orang-orang yang mana anda jatuh cinta kepadanya untuk berkoalisi, bergabung menjadi anggota untuk juga memperjuangkan cita-cita partai bukannya mengajaknya berkoalisi!

Maka jangan pernah banyangkan bagaimana Soekarno dan Hamka bisa berkoalisi! []

Salah Kaprah Menggolongkan Partai

•April 4, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Di Indonesia setidaknya ada dua golongan besar partai politik, yaitu partai nasionalis dan partai Islam. Penamaan ini tidak saja digolongkan oleh kalangan media tetapi klaim mereka sendiri. Sebutlah PPP, PBB, PKNU, PKS, dan PBR adalah partai Islam. Kadang pula partai yang sebenarnya bukan partai Islam, tetapi “hanya” berbasis masa Islam, juga disebut partai Islam. Misalnya PAN, PMB, dan PKB.

Golongan kedua, yaitu Partai Nasionalis. Yang masuk kelompok ini adalah Golkar, PDIP, PD, PDP, PPD,  PKPB, Gerindra, Hanura, PKPB, dll.

Dari sini mulailah terasa keganjilan. Di mana-mana di dalam penggolongan pasti dikelompokkan secara berlawanan. Katakanlah misalnya penggolongan tanaman berdasarkan akar. Kitam engenal ada akar tunggal dan akar serabut. Kalau dia tidak tunggal maka dia berserabut, dan demikianlah memang adanya. Begitu pula penggolongan biji buah. Ada monokotil dan dikotil. Kita juga mengenal kalau tidak siang maka malam. Memang ada juga pagi, sore, atau senja, bahkan fajar. Tetapi ingat, patokannya sama yaitu posisi matahari. Sama halnya dengan dengan penggolongan tumbuhan tadi, berpatokkan sama. Apakah patokannya akar atau biji buah. Bisakah kemudian penggolongan tanaman disebut begini, 1) pohon akar tunggal, 2) pohon dikotil. Penggolongan demikian salah kaprah dan rancu. Yangsatu berdasarkan akar dan yang lain berdasarkan biji buah.

Sama halnya dengan penggolongan partai politik di Indonesia. Dia tidak taat “patokan”. Yang satu berpatokan agama yang satu berpatokan kecintaan terhadap negera (nasionalisme). Rancu bukan?

Mestinya taat seperti di Turki. Ada partai Islam dan partai sekuler. Dua-duanya adalah perbandingan sepadan. Sama-sama menilainya berdasarkan agama. Atau di negara lain, AS misalnya. Ada konservatif (Partai Republik) dan liberal (Demokrat).

Oleh karenanya terasa ganjil tatkala dua partai dari dua pengelompokkan berbeda disandingkan (partai Islam Vs. partai nasionalis). Mestinya jika partai Golkar, katakanlah demikian misalnya, disebut partai Nasionalis disandingkan dengan PKNU dari partai Islam, mestinya PKNU disebut partai bukan Nasionalis! Begitu juga Golkar misalnya, mestinya disebut bukan Islam (sekuler)!

Tapi dasar Indonesia yang malu-malu, kemudian merasa tidak enak menyebut diri partai sekuler maka kemudian disebutlah dirinya sendiri dengan partai nasionalis. Begitu juga sebaliknya.

Makanya saya terkadang “setuju” dengan upaya Surya Paloh, Dewan Penasihat Golkar, yang enggan berkoalisi dengan PKS dan lebih memilih PDIP, dengan alasan satu ideologi. Tentu yang dimaksuk di sini adalah sama-sama sekuler bukan sama-sama nasionalis. Karena tak satupun yang meragukan betapa PKS adalah juga sangat nasionalis. Saya bukannya setuju akan koalisis ini. Karena bisa dibayangkan betapa luar biasanya negeri ini akan jauh dari nilai-nilai Islam jika dedengkot partai sekuler ini berkuasa. Meskipun juga bukan jaminan partai Islam manapun yang berkuasa akan menjadikan Islam tujuannya dan syariat Islam sebagai aplikasi perangkat negara. Sekali lagi tak satupun partai Islam berani menjanjikannya!

* * *

Persoalan pengelompokkan partai Islam dan nasionalis memang nampak sederhana, tetapi sangat cukup jitu untuk menjebak rakyat mengelabui betapa banyaknya partai yang tak mengakui Islam sebagai sebuah ideologi dan sumber hukum. Partai yang mengklaim dan diklaim sebagai partai Islam saja malu menjajakan Islam sebagai ideologi, apalagi mereka. Hem!

About “Shortime”

•April 4, 2009 • 1 Komentar

shortime1

Shakespeare pernah berkata, “Apalah arti sebuah nama?”.  Tentu banyak artinya. Tidak saja si empunya nama yang merasa penting malah bagi si pemberi nama tentu banyak lagi maknanya. Ingin menyiratkan harapan atau memberikan identitas misalnya. Karenanya tak elok kiranya kalau blog ini tanpa dimulai dengan memperkenalkan nama.

“Shortime” (baca: Short Time), sebenarnya nama yang tidak dirancang dari awal. Pada mulanya saya memilih nama-nama yang menurut saya lebih idealis. Tapi apa daya, wordpress –penyedia hosting dan subdomain blog ini– telah berkata username already exist terhadap nama-nama yang saya sodorkan. Walhasil nama-nama yang sudah saya siapkan dari rumah tersebut tertolak.

Sampai akhirnya –saking lamanya memilih nama– saya berujar dalam hati, “Lama sekali proses membuat blog ini, gara-gara namanya saja. Mestinya singkat saja (short time).” Olala… kupilih saja shortime sebagai nama blog ini.

Di balik nama ini banyak makna dan harapan. 1) Tulisan-tulisan di blog ini dibuat dengan shortime. Ada 4 judul pada tulisan ini adalah koleksi tulisan saya di blog localhost komputer saya. Semua pada penulisannya ditulis dengan waktu yang pendek. Semoga nama shortime mewakili proses pembuatan tulisan-tulisan di blog ini. 2) Karenanya kemudian cukup memakan waktu yang singkat (shortime) pula bagi anda untuk membaca tulisan di blog ini.

Lebih dari itu, blog ini ingin memberikan spirit bahwa sebenarnya tiap kita memiliki waktu yang sangat pendek untuk berjuang menghapus kesengsaraan di muka bumi ini, dengan menegakkan aturan Allah yang telah diperintahkan kepada kita. Karenanya dalam waktu yang singkat ini marilah kita terus menyalakan api perjuangan sebelum ajal menjemput kita.[]