Pelacur Politik
Seni berpolitik. Bagi mereka pecinta seni, seniman maksud saya–yang tulen lo ya, tentu sangat heran luar biasa pada istilah satu ini. Mereka selama ini hanya kenal seni melukis misalnya, memahat, menyanyi, menari, berpantun, seni berpuisi, atau seni berperan. Nah kalau berpolitik di mana seninya? Malah sebagian orang menggolongkan berpolitik sebagai hal yang najis, patut dijauhi. Jika demikian, apa bedanya politik seni dan air seni, kalau sama-sama najis?
* * *
Di dunia politik, dikenal banyak istilah dalam praktiknya. Misalnya lobi, baik dalam menentukan pimpinan sidang, menerima atau menolak pertanggungjawaban seorang pemimpin (Bupati, Walikota, atau bahkan Presiden), hingga dalam pengesahan UU. Ada juga dikenal koalisi partai. Sebuah fusi, penggabungan kekuatan, partai tanpa meninggalkan partai sebelumnya. Artinya di depan politik kekuatan partai-partai yang berkoalsi tersebut satu tetapi terdiri dari banyak partai (lebih dari satu). Banyak alasan mengapa sebuah partai berkoalisi. Tentu jawabannya sudah bisa ditebak, KEPENTINGAN itulah jawabannya. Terserah untuk memenangkan kursi pimpinan politik (Bupati, Gubernur, Presiden, dll) atau lainnya. Karenanya kemudian dikenal dalam dunia (yang lebih keras dibandingkan dunia preman ini) tak ada lawan dan kawan abadi, yang hanya ada kepentingan abadi!
* * *
Sejatinya, secara filosofi, mengapa partai itu berdiri dan apa ideologinya-lah yang menyebabkan partai tersebut beserta orang-orang yang menjadi anggotanya berbeda dengan partai lain. Di tindak-tanduk serta sepak terjangnya dilapangan-pun mestinya terlihat juga perbedaan tersebut. Namun, jika pada akhirnya sebuah partai yang telah eksis dan mempunyai anggota yang menggerakkannya ternyata berkoalisi dengan partai lain, lalu untuk apa partai itu ada? Bukankah –menurut pandangan idealisme– satu-satunya yang bisa menyebabkan anggota partai duduk bersama dengan anggota yang lain adalah kesamaan IDEOLOGI? Bukankah pula wadah tempat duduk tersebut bagi orang-orang yang “sama” tersebut bukannya wadah KOALISI tetapi wadah PARTAI itu sendiri? Lalu untuk apa pula kebanggan diri menyebut perbedaan dirinya dengan partai lain, katakanlah bersih dan terpercaya, tapi pada akhirnya berkoalisi dengan partai yang ia tuding kotor dan tak terpercaya? Bukankah tak ada istilah bersih jika sudah bercampur kotor? Sungguh koalisi adalah sebuah lacur politik!
Simpel saja. Jika anda ingin ideologi anda tegak dan cita-cita partai anda tercapai dan berhasil, maka ajaklah orang-orang yang mana anda jatuh cinta kepadanya untuk berkoalisi, bergabung menjadi anggota untuk juga memperjuangkan cita-cita partai bukannya mengajaknya berkoalisi!
Maka jangan pernah banyangkan bagaimana Soekarno dan Hamka bisa berkoalisi! []

[...] Di dunia politik, dikenal banyak istilah dalam praktiknya. Misalnya lobi, baik dalam menentukan pimpinan sidang, menerima atau menolak pertanggungjawaban seorang pemimpin (Bupati, Walikota, atau bahkan Presiden), hingga dalam pengesahan UU. Ada juga dikenal koalisi partai. Sebuah fusi, penggabungan kekuatan, partai tanpa meninggalkan partai sebelumnya. Artinya di depan politik kekuatan partai-partai yang berkoalsi tersebut satu tetapi terdiri dari banyak partai (lebih dari satu). Banyak alasan mengapa sebuah partai berkoalisi. Tentu jawabannya sudah bisa ditebak, KEPENTINGAN itulah jawabannya. Terserah untuk memenangkan kursi pimpinan politik (Bupati, Gubernur, Presiden, dll) atau lainnya. Karenanya kemudian dikenal dalam dunia (yang lebih keras dibandingkan dunia preman ini) tak ada lawan dan kawan abadi, yang hanya ada kepentingan abadi! (Lihat) [...]
Public Blog Kompasiana» Blog Archive » Pelacur di Akhir Pekan dibahas juga di dalam Oktober 17, 2009 pada 5:57 am |