Kampanye secara bahasa berasal dari kata campaign yang dapat diartikan sebagai a systematic course of aggressive activities for some specific purpose.[1] Di dalam kampanyelah berbagai janji dan program kerja ditawarkan kepada pemilih (di dalam dunia politik) atau konsumen (di dunia marketing). Dengan isi kampanye pula sesorang atau sebuah partai didukung. Layaknya sebuah proposal, kampanye akan ”merayu” sasarannya untuk memilihnya. Karenanya di waktu tenang ini di mana semua partai sudah dilarang untuk berkampanye, tepat rasanya bagi kita untuk menilai apa yang mereka kampanyekan.
Jika diperhatikan maka semua parpol telah menjanjikan kehidupan yang lebih baik seandainya kelak mereka berkuasa. Berbagai cara dan program mereka beberkan. Tragisnya hampir semua partai politik tidak ada yang ”memasarkan” syariat Islam sebagai program yang akan mereka pakai. Bahkan mereka (Parpol Islam) beramai-ramai meninggalkan syariat Islam sebagai jurus meraup dukungan maupun ”jurus” menangani negara ini yang sedang sakit untuk menuju kesejahteraan.
”Partai politik berhaluan Islam, seperti PPP, PKS, dan PBB, berusaha meminimalkan penggunaan jargon dan isu penegakan syariat Islam dalam kampanyenya di Pemilu 2009”, demikian isi berita dari www.kabarindonesia.com yang berjudul Parpol Islam Hindari Jargon Syariat[2].
Dari fenomena ini bisa kita ketahui bahwa telah terjadi degradasi kepercayaan diri yang sangat parah pada parpol Islam tentang ”keampuhan” syariat Islam sebagai penyelesai masalah. Pertanyaannya, lalu kemudian apakah yang menjadikan mereka berbeda dengan parpol sekuler? Padahal perbedaan itu sendiri terletak pada keloyalan memegang Islam itu sendiri.
Kedua, penyebab lain bisa jadi adalah ide memenuhi ”selera pasar”. Setelah menganalisis bahwa ide memperjuangkan syariat Islam sudah tidak laku lagi, kemudian parpol Islam enggan menjual syariat Islam. Hal ini semakin dikuatkan dengan analisis-analisis lembaga survey. Direktur LSI Dodi Ambar, misalnya, menyebut jumlah pemilih yang menjadikan isu agama dan moral sebagai prioritas pemilih muslim saat ini semakin terbatas[3].
Komplitlah sudah, parpolnya enggan menawarkan Islam; rakyat juga emmoh memilih Islam. Tentu fenomena ini begitu memilukan. Lalu bagaimanakah ”nasib” masa depan syariat Islam karena tak laku di pemilu kali ini?
* * *
Syariat Islam tetaplah syariat Islam. Ia tetap mulia meski sebagian umat Islam, atau bahkan seluruhnya, meninggalkannya. Ia tetap sebagai sistem terbaik karena diturunkan oleh Dzat Yang Mahabaik, Mahasempurna, Mahamengetahui, serta Mahabijak.
(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (TQS Ali Imran [3] 138)
Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (TQS An Nahl [16] 89)
Sejarah membuktikan bahwa tatkala Islam diterapkan kesejahteraan begitu mudah ditemukan di mana-mana, di dalam Negara Islam tentunya (insya Allah tak lama tulisan sejarah kegemilangan umat manusia di bawah naungan Islam akan saya posting).
Sekali lagi, syariat Islam tetaplah akan menjadi syariat Islam, sistem terbaik dan tersempurna. Ia tak mengalami degradasi kemulian sedikitpun. Begitu pula Allah, tidak akan sedikitpun turun kemuliaanNya sama sekali meski sebagian atau bahkan seluruh umat manusia meninggalkanNya.
Dan Musa berkata: “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (TQS Ibrahim [14] 8 )
Sebaliknya ”hantaman bumerang” akan memukul umat Islam (dan umat manusia seluruhnya) sendiri jika tidak menerapkan sistem Islam ini. Dzat Mahatahu tersebut telah memberitahukan kita bahwa,
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, (TQS Thaahaa [20] 124)
Ya, kehidupan sempit yang diderita umat manusia saat ini tidak lain karena telah meninggalkan Islam itu sendiri. Dan kesempitan yang lebih dahsyat telah menghadang di depan mata jika tidak kembali pada syariat Islam.
* * *
Maka, syariat Islam tidak akan bernasib apa-apa sebaliknya umat manusialah yang akan semakin terpuruk dan tragis kehidupannya tatkala meninggalkan Islam. Memalukan!!! []
[1] http://dictionary.reference.com/browse/campaign diakses tanggal 7 April 2009
[2] http://kabarindonesia.com/berita.php?pil=27&jd=Parpol-Islam-Hindari-Jargon-Syariat&dn=20081003215313 diakses tanggal 7 April 2009
[3] http://fajar.co.id/index.php?act=news&id=53017 diakses tanggal 7 April 2009

Semakin dekat hari penyontrengan, masyarakat, utamanya mereka yang bukan simpatisan (baca: massa mengambang), makin berpikir partai apa nanti yang akan dipilih. Teman saya bahkan dengan tidak biasanya browsing di internet melihat-lihat profil partai dan capres yang diusung parpol. Mungkin seandainya ada sebuah media yang menyediakan informasi profil caleg dan parpol secara seimbang tanpa melebihkan atau merendahkan, saat-saat seperti ini akan sedikit naik tirasnya.
Awalnya kita tak kenal apa itu black campaign, tapi sejak Pemilu 2004 lalu di mana salah seorang capres yang mengecam black campaign, kemudian mulai ramailah istilah black campaign. Kita pun kemudian akrab. Secara sederhana kita sudah bisa menterjemahkan arti black campaign dari kata-kata yang tersusun. Ya betul, kampanye hitam. Hitam di sini mewakili sebuah istilah yang buruk, jelek, intinya patut dijauhi. Selanjutnya di dalam penggunaannya diartikan kampanye menjelekkan lawan politik. Namun, sebenarnya juga dapat diartikan sebagai kampanye yang buruk.
Bangsa Indonesia sudah terlanjur menganggap demokrasi sebagai sistem terbaik. Istilahnya berapapun harga untuk sebuah demokrasi akan ditebus oleh bangsa ini. Toh ternyata harus mengorbankan uang triliunan rupiah (biaya pelaksanaan Pemilu demokratis untuk 2009 saja Rp. 29,3 triliun)
Seni berpolitik. Bagi mereka pecinta seni, seniman maksud saya–yang tulen lo ya, tentu sangat heran luar biasa pada istilah satu ini. Mereka selama ini hanya kenal seni melukis misalnya, memahat, menyanyi, menari, berpantun, seni berpuisi, atau seni berperan. Nah kalau berpolitik di mana seninya? Malah sebagian orang menggolongkan berpolitik sebagai hal yang najis, patut dijauhi. Jika demikian, apa bedanya politik seni dan air seni, kalau sama-sama najis?
Komentar Terakhir